Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Sejak dahulu kala, yang namanya kenakalan akan selalu ada dan terjadi serta dilakukan oleh orang-orang yang biasa melakukan kenakalan. Namun juga kenakalan juga bisa terjadi secara spontanitas dan tidak disadari bahwa ia telah melakukan sebuah kenakalan, dan orang lain terkejut melihatnya berbuat nakal, maklum saja karena kenakalan yang sifatnya spontan tidak pernah direncanakan sebelumnya. Itulah uniknya manusia, mahluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan
Waktu kita kecil dan masih kanak-kanak berbau kencur, ibu kita sering memberikan peringatan, "Nak, kamu jangan nakal ya! sambil tersenyum. Jika ayah kita yang menyampaikannya kadang-kadang diucapkan dengan memasang wajah garang, atau dengan raut muka sedikit marah dan sebelah alisnya ditarik ke atas, sesekali memasang gaya dengan tangan di pinggang, seperti tanda notasi lebih besar (>) dan notasi lebih kecil (<). Pokok'e seru dech.
Saya masih ingat kenakalan waktu kecil. Saat itu senja hari di bawah langit sedikit mendung, kawan kecil saya yang berkulit kuning baku hantam sambil bertelanjang dada, disaksikan banyak orang dengan sorak sorai yang teramat ramai, adu gulat dan adu kuat dipenuhi lumpur hitam kenyal di kolam kecil di kampung. Hasilnya saya lupa lagi siapa yang kalah atau menang, yang jelas kenakalan saya berbuntut pada kemarahan almarhum tercinta bapak saya yang minta ampun dech.
Pada usia SMP saya juga pernah berbuat nakal, di pagi buta usai sholat subuh saya olahraga lari dari rumah dengan rute melewati jalan malabar, ahmad yani, supratman, dago lalu menyusuri jalan sebelah kiri di ujung jalan dago, ke kanan arah dago pakar, ke kiri arah lembang. Saya memilih arah Lembang.
Waktu itu saya sendirian, menggunakan celana training pemberian bapak, tanpa rasa bersalah jiwa petualangan saya mengantarkan saya sampai ke Cibodas Lembang di atas jam 10 pagi, Saking panjangnya lari pagi akhirnya saya memutuskan pulang. Namun arah jalan pulang tidak saya ingat lagi, dan tersesatlah saya di Desa Cibodas.
Dalam kegalauan jiwa tiba-tiba pundak saya ditepuk, orang itu tertawa, lalu kami berkenalan, namun lama kelamaan omongannya ngelantur, topik bicara di arah kulon tapi langsung menuju kidul, di waktu lain saya bicara tentang tema arah wetan tapi jawaban dan obrolan berujung di awah kaler, ambyar dech, pusing saya, untung tak berasa mual lalu tak muntah, alhamdulillah.
Menjelang sore kerinduan saya bertemu almarhum ibu sudah menyesaki dada, namun jiwa laki-laki saya tidak membiarkan air mata mengalir di pipi. Entahlah pada saat itu kegalauan hati teramat besar, maklum saja jauh dari rumah dan berada di tempat antar berantah dan tak tahu jalan menuju pulang.
Tibalah waktu saya harus menyelesaikan misi kenakalan ini, "Ujang, rek kamana, naha wawuh jeung si eta, ihh Ujang teu apal nya si eta mah rada sedeng" Seorang ibu2 bertopi petani dengan sebakul buah-buahan di punggungnya tiba-tiba berkata ke arah saya.
Mendengar perkataan tersebut, saya ceritakan pada ibu tadi perihal ketersesatan saya hingga bertemu kawan tukang seuri teu pupuguh di Cibodas Lembang. Ibu muda tadi mempersilakan saya ke rumahnya yang tidak jauh dari tempat saya berada, memberi makan dan uang seadanya secukupnya untuk pulang. Rupanya kawan tadi masih keponakannya.
Akhirnya saya pulang dengan angkutan pedesaan menuju Lembang, Di Lembang ganti angkot jurusan Ledeng. Sesampainya di Terminal Ledeng ganti angkot lagi ke jurusan Kebon Kelapa, dan akhirnya misi berakhir di angkot jurusan Binong yang waktu itu masih populer dengan sebutan bemo.
Setiba di rumah, ibu saya yang mungkin sudah menangis sangat bergembira dengan kedatangan saya, wajah sedihnya berubah lalu bertanya, ari eta tomat meunang ti mana? Katanya. Jawab saya, dipasihan ku urang Lembang, Kemudian saya ceritakan historis petualangan kenakalan saya kepada ibu tercinta, Waktu itu kakak-kakak saya tersenyum mendengarnya.
Kenakalan mewujud dalam berbagai model. Dan kamu disebut nakal kalau di tengah suasana yang normal kamu memecahkan kekhidmatannya. Model kenakalan lain ternyata juga menjadi wabah di banyak pejabat dan penyelenggara negara. Boleh jadi korupsi yang sudah menjadi epidemi khas nusantara menjadi wabah yang penyebarannya tak bisa disembuhkan saat konsep otonomi daerah diberlakukan.
Kenakalan di kalangan pejabat dan penyelenggara ini berdampak pada kuota hunian penjara yang semakin penuh padat dan kumuh, juga menjadi penyebab pelaku kenakalan melakukan share ilmu kenakalannya kepada rekan sesama penghuni. Hal ini terjadi karena pelaku kenakalan tidak diberi hukuman yang setimpal. Boleh jadi hukuman berat selain hukuman mati divoniskan, namun perilaku kenakalan tetap terjadi karena tidak terjadi efek jera.
Cerita horor dari kabar via rumor menyebutkan situasi di penjara bagi mereka bagai kehidupan di surga, katanya. Hari sabtu dijadikan pilihan melakukan vakansi seharian, lalu hari minggu bersenang-senang di rumah kontrak atau sewaan sekitar penjara. Dan hari senin sudah masuk ke kamar sel dengan fasilitas berbeda dengan umumnya napi lainnya. Hmm,
Dan kamu disebut nakal, jika uang muka yang kamu ambil untuk kepentingan pelaksanaan pekerjaan di sebuah proyek pemerintah, kamu bayarkan buat menutupi dan mencicil utang-utang kamu yang jumlahnya aduhai akibat dari bekas kenakalan yang kamu lakukan sebelumnya. Dan kamu jadi bertambah nakal ketika uang termijn yang kamu terima dari pembayaran proyek, juga kamu prioritaskan untuk membayar tagihan-tagihan akibat manajemen keuangan pribadi kamu tidak bagus dan punya rapor merah.
Dan kamu Nak, gak boleh nakal ya, orangtuamu sewaktu kecilnya melakukan darmaji, dahar lima ngaku hiji, kini kamu melakukan lebih dari sekedar darmaji, darluhji, dahar sapuluh ngakuna ngan hiji.
Kopi di cawan putih kuseduh, kubiarkan sampai hangat lalu kuteguk step by step untuk mengakhiri tulisan ini, Sayangnya bala-bala haneut tidak bisa ikut hadir pada perjamuan pagi ini. Juga bubur ayam canggih yang jadi jatah sarapan pagi di ruko berlantai tiga.
Duuuh, Nak, jangan nakal ya.
Ditulis di Bandung, diselesaikan di Cirebon, semoga bermanfaat
Cirebon, 11 Juli 2020
No comments:
Post a Comment