Sunday, July 19, 2020

Bagaimana pun Tender Harus Tetap Jalan


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Puji syukur alhamdulillah, Indonesia sudah melewati masa pandemi global, tapi jangan bahagia dulu, saking bahagianya beberapa dari kita bersorai-sorai menampakkan suka cita, termasuk di antaranya dengan melakukan aktivitas di jalan raya, tahu kan, ya macet lagi lah jalan raya.

Tapi tak apa, sebab itulah Indonesia. Warga +62 sama kok dengan warga negara Vietnam, yang  digadang-gadang oleh media sudah sukses melewati krisis global virus corona dengan korban terpapar paling sedikit, dan hmm beda dikit dengan kita di urusan korban meninggal. 

Kalau kamu tanya emang berapa korban terpapar dan korban meninggal?
Saya cuma mau jawab, silakan cek ndiri aja dech, males ah buka-buka data corona, sementara calon pandemi kedua yang akan mewabah sudah diblow up oleh media, yaitu resesi ekonomi dan virus corona jilid kedua yang sampai sekarang masih dalam bersembunyi di benak dengan banyak huruf tanya. huuh.

Yang jelas, Laut Cina Selatan tengah bergejolak dan menarik banyak negara untuk urun rembug menggempur Cina, Beda dengan negara yang didominasi oleh ras kulit putih, Indonesia yang berkulit sawo setengah matang masuk dalam fase menghadapi buah simalakama, mau ikutan tawuran gak pede, mau diem aja, takut kecipratan. Ya udah menidng produksi vaksin aja biar jadi pesaing Billy si Ganteng.

Di wilayah perbatasan Cina dan India juga tengah berkecamuk dua raksasa Asia dari sudut pandang populasi penduduknya. Menurut sejumlah analis geopolitik, negara yang akan diuntungkan adalah yang memerankan kuda hitam, dialah Pakistan. Simak video dari channel Yutub LSIPP, karya Ust. Suharsono. cari ndiri ya gan.

Bukannya tak tertarik dengan situasi strategis dan haru biru kerusakan akibat ketamakan manusia di semesta internasional, tapi saya, seperti orang kebanyakan lebih memprioritaskan menyelamatkan kehidupan di area terdekat, keluarga, rekan sejawat, sahabat dan umat.

Lalu, kok dari tadi muter-muter beda dengan judul?

Ya itulah maksudnya, kalau jiwa petualang dan keturunan maniak browsing dari generasi milenial memang sukanya muter-muter sampei lieur, trus lupa jelasin apa maksud tulisan ane. waah.

Orang kebanyakan seperti saya yang bukan berjiwa pedagang dan tidak berbakat menjadi reseller untuk setiap produk yang dibangun oleh media sosial, harus tetap fokus pada pekerjaan yang sudah puluhan tahun jadi sumber periuk nasi sehari0hari.

Walaupun APBN melalui perpu terakhir disikat oleh dan untuk penanganan covid-19, namun tender pengadaan barang dan jasa harus tetap berjalan, apa pun halangan dan rintangannya. 

Contoh sederhana untuk melakukan pembuktian atau verifikasi setiap kandidat pemenang akan diundang, Naah kalau lokasi Pokja dipisahkan oleh laut, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, protokol covid-9 harus dilekatkan pada setiap Direktur atau yang mewakilinya. Sudah jelas biaya operasional tambahan untuk Rapid Test dan sejenisnya harus dikeluarkan lalu diikhlaskan. Sebab tak ada mata anggaran atau item RAB di draft BoQ atau dokumen Daftar Kuantitas dan Harga yang menitipkan wakil oligarki bernama covid-9 di perhitungan excelnya atau pdf yang disiapkan PPK di masing-masing LPSE. 

Betapa saya merasakan beban berat pengusaha yang periuk nasinya mengandallkan tender proyek. Iya kalau pokja pemilihan menetapkan sebagai pemenang, maka beban operasional tambahan seperti itu bisa disiasati dengan memenej pekerjaan dengan total ekstra ketat. Tapi jika tidak atau dikalahkan, yang terjadi adalah bersikap ikhlas, dan mencoba nyari dana talangan untuk bayar utang tiket pesawat dan biaya akomodasi selama perjalanan pembuktian. 

Bagaimana pun, tender harus tetap berjalan, periuk nasi yang melewati para pengusaha setiap tahun berjalan telah mendongkrak berjalannya supply chain perekonomian masyarakat kebanyakan, juga telah menghidupi banyak tenaga profesional yang terkoneksi dengan pekerjaan jasa konsultan, walau hanya sekedar tukang survey atau tukang ketik seperti saya. Itu pun sudah alhamdulillah. 

Yang aneh bagi saya di zaman kolonial, eeh milenial seperti sekarang, gairah untuk mendapatkan pekerjaan melalui tender pemerintah atau pun swasta masih didominasi oleh kaum tradisional yang mempertahankan cara-cara lama dan belum bisa move on dengan menanamkan jiwa petarung untuk setiap kemenangan. 

Walaupun begitu, daripada bersikap pesimis saya akan tetap berupaya dan bersikap optimis bahwa Indonesia harus maju. Caranya ya didorong supaya maju, atau digusur, seperti kerbau yang membawa alat bajak sawah. Bisa juga ditakut-takuti dengan informasi negatif tapi hasilnya bisa positif. Contohnya seperti narasi lockdown yang jadi tawuran narasi oleh segelintir kaum oligarki yang menguasai tatanan global di semua sektor dan lini kehidupan. Dan hasilnya ambruklah tatanan semesta peradaban. 

Ah, sudahlah, cape dech, bagaimana pun, bala-bala dengan cengek domba masih menjadi menu harian, ditambah secawan kopi yang aduhai, nikmatnya berkali-kali. 

Cimahi, 19 Juli 2019

#verifikasi
#pembuktian
#tender
#periuknasi
#tenagaahli
#secawankopi
#balabala



No comments:

Post a Comment