Sunday, July 12, 2020

Gemes dan Kapok


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Di negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berbicara, berpendapat, melempar opini ke publik, menulis polemik di koran cetak atau digital serta bentuk tulisan lainnya merupakan sebuah hal yang wajar, biasa, lumrah dan yang paling penting, hal itu dijamin oleh negara, sepanjang tidak memuat unsur yang memicu keributan dan konflik SARA.

Dan tulisan pendek ini hanya sebuah unek-unek yang melintas di pikiran, menggelayut dalam rona logika dan sempat terpendam di hati jauh-jauh hari.

Pertanyaannya, tentang apakah? Jawabnya tentang rasa gemas yang melahirkan sikap kapok, namun tidak bisa diselesaikan saat peristiwa itu terjadi. Jadi saya memilih menulisnya di blog kesayangan, Secawan Kopi, sambil menikmati bala-bala haneut depan ruko, tanpa kehadiran bubur ayam canggih, namun yang pasti ada cawan kopi yang setia menemani.

Kisahnya begini. Untuk memenuhi ajakan kawan di kota C, tugas saya adalah mengunjunginya untuk menemani sejumlah segmen acara perusahaan yang bergerak di bidang meubelair/furnitur. Dari ujung timur Kota Bandung, area Gedebage, saya diantar oleh kawan baik seumuran ke pintu tol Buahbatu. Sesampainya di Poll travel BS, reservasi yang sudah saya pesan secara online saya tuntaskan.

Baah, rupanya tiket travel dari kota Bandung ke kota C yang biasa saya bayar seharga 110 ribu sudah naik progresif menjadi 135 ribu rupiah. Gak apa-apa dech, toch kantor yang membayar atas biaya proyek yang digarap bersama.

"Kok nambah ya harganya?" saya lempar pertanyaan pada Customer Service yang tidak berjilbab, soalnya berkumis. Iya pak, perusahaan kita kena imbas dan disuruh untuk menerapkan protokol covid-19 dengan hukum wajib menggunakan masker untuk semua penumpang serta jaga jarak di lapak duduk yang sudah disediakan.

Iya sudahlah, Jawab saya.

Tibalah waktu berangkat jam 13:30 on time, pintu tol Buah batu terlewati sudah, selama perjalanan bongkar pasang masker terjadi, namun supir di samping kanan saya tidak melakukannya, rupanya sudah terbiasa dengan masker.

Akhirnya sampailah di Poll Travel BS di kota C, shalat ashar pun dilakukan di area Poll ba'da minum secawan kopi torabika capucino. Usai sudah dan langsung menuju area Ojeg, HP yang saya pegang memuat aplikasi Gojek dan Grab tapi jarang sekali saya gunakan, saya coba menghampiri petugas Satpam.

"Pak, saya perlu ojeg untuk antar saya ke titik Kdw." Tanya saya.

"Lah pak, bapa gak usah pake ojeg, jalan dikit ke depan, di sana ada angkutan melintas ke Kdw, cuma 2 rebu pak". Dengan penuh keyakinan Om Satpam menjelaskan.

"Tapi pak, tujuan saya ke perumahan cluster BH di kecamatn Kdw, bisa ndak carikan gojeg? Saya tegaskan tujuan saya

"Baik pak, tunggu ya sebentar, saya panggil dulu ojegnya" senyum manis Satpam terlihat.

Terjadilah komunikasi antara saya dan tukang ojeg pangkalan. Tanpa tawar menawar panjang dengan sigap saya diboncengnya. sembari jalan saya ngobrol sedikit dan seperlunya mengenai situasi covid-19 di kota ini. Sebab tamu seperti saya yang masuk ke kota nya harus dilayani, obrolan akrab tak terasa mengantarkan saya ke tempat titik tujuan.

"Berapa mas", tanya saya, sambil berharap tukang ojeg menyebutkan angka sesuai prediksi yang muncul di benak. Kalau dia sebutkan angka 10 atau 15 ribu, saya bayar dia 20 rebu, sesuai isi dompet saat itu.

Tanpa ragu tukang ojeg menjawab, "40 rebu pak"

"Haah, yang bener, perasaan gak jauh-jauh amat dari Poll Travel ke sini, saya biasa bayar Gojek atau Grab di kisaran 10 atau 11 rebu"  Hati ini mulai gemas campur kesal dan sedikit marah. Saat itu hati mengatakan, sabar, tenang, saatnya berkorban.

Di kantor tempat tujuan saya di kota C, sudah ada kawan-kawan saya yang menunggu kedatangan saya, akhirnya saya minta tolong untuk menggenapkan permintaan tukang ojeg pangkalan tadi. Saya serahkan 40 rebu dengan berat hati, penuh gemas, sedikit marah dan heran dengan perilaku tukang oje pangkalanb di kota ini.

Setelah pengemudi opang itu menghilang, saya mohon maaf kepada rekan-rekan di kantor atas kejadian tadi karena sudah merepotkan tambahan biaya.

Saya merenung, Ya Allah, maafkan saya yang tidak cermat mengambil pilihan. Namun saya juga heran dengan perilaku pengemudi opang. Padahal pandemi sudah di musim pasca, ketika banyak orang menghemat dan berusaha menjaga sikap saling menghargai dan menghormati, ternyata masih ada oknum pengemudi Opang yang tanpa tedeng aling-aling, tegel, tega-an, memeras penumpang dari luar daerah yang masuk ke kotanya.

Rasa gemas dan kesal akhirnya melahirkan kapok, moal deui-deui numpak opang. Kapok saya. Padahal zaman digital sudah menjadi pilihan, mengapa harus ada sekelompok orang yang memilih untuk tidak berubah dan beradaptasi dengan keramahan harga ojeg online.

Kehadiran ojeg online dengan berbagai ragam piilhan seperti Gojek dan Grab serta vendor lainnya, masih disikapi oleh kaum stagnan yang tidak ikhlas menerima perubahan, bahkan memaksa pelanggan untuk mengeluarkan ongkos yang cukup besar, dengan jarak tempuh yang tidak bisa disebut jauh dan panjang.

Jika di kantor tempat yang baru saya tiba ini ada bala-bala haneut, mau kusikat habis mereka dengan cengek-cengek dombanya sekalian.

Illustrasi:
https://hube13.wordpress.com/2014/06/23/etika-profesi-nonformal-tukang-ojek/

Bandung, 12 Juli 2020

No comments:

Post a Comment